Menjalin Cinta
Abadi Dalam Rumah Tangga
Hari/Tanggal
: Rabu, 10 juli 2013
Tempat : Masjid al huda
Penceramah : Ustad
Abdullah
Alhamdulillahi Rabbil
‘alamin ash-sholatu wassalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi
wamanit tabi’ahu ila yaumiddin
Setiap orang yang telah berkeluarga,
tentu menginginkan kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupannya bersama istri
dan anak-anaknya. Hal ini merupakan perwujudan rasa cintanya kepada mereka.
Kecintaan ini merupakan fitrah yang Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan pada jiwa
setiap manusia. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ
مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,
perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik
(surga)” [Ali 'Imrân/3:14]
Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan
istri dan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan
seorang hamba dalam kebinasaan. Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ
مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
“Hai orang-orang yang
beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang
menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” [at-Taghâbun/64:14]
Makna “menjadi musuh bagimu” adalah
melalaikan kamu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Salah Menempatkan
Cinta dan Kasih Sayang
Kita dapati kebanyakan orang salah menempatkan arti cinta dan kasih sayang
kepada istri dan anak-anaknya, dengan menuruti semua keinginan mereka meskipun
bertentangan dengan syariat Islam, yang pada gilirannya justru akan
mencelakakan dan merusak kebahagiaan hidup mereka sendiri.
Ketika menafsirkan ayat tersebut di
atas, Syaikh Abdur rahmân as-Sa’di rahimahullah berkata: “…Karena jiwa
manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam
ayat ini) Allah ‘Azza wa Jalla memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini
menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam
hal-hal yang dilarang dalam syariat. Dia memotivasi hamba-hamba-Nya untuk
(selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya…”.
Oleh karena itulah, seorang kepala keluarga yang benar-benar menginginkan
kebaikan dalam keluarganya hendaknya menyadari kedudukannya sebagai pemimpin
dalam rumah tangganya, sehingga dia tidak membiarkan terjadinya penyimpangan
syariat dalam keluarganya, karena semua itu akan ditanggungnya pada hari kiamat
kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَلاَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ
عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ
عَنْهُمْ
“Ketahuilah, kalian
semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang
apa yang dipimpinnya…seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan
dimintai pertanggungjawaban tentang (perbuatan) mereka”.
Menjalin Cinta
Abadi Dalam Rumah Tangga
Hari/Tanggal
: Rabu, 10 juli 2013
Tempat : Masjid al huda
Penceramah : Ustad
Abdullah

Alhamdulillahi Rabbil
‘alamin ash-sholatu wassalamu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi
wamanit tabi’ahu ila yaumiddin
Setiap orang yang telah berkeluarga,
tentu menginginkan kebaikan dan kebahagiaan dalam kehidupannya bersama istri
dan anak-anaknya. Hal ini merupakan perwujudan rasa cintanya kepada mereka.
Kecintaan ini merupakan fitrah yang Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan pada jiwa
setiap manusia. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ
مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ
وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang
diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas,
perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah
kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik
(surga)” [Ali 'Imrân/3:14]
Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan
istri dan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan
seorang hamba dalam kebinasaan. Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ
مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ
“Hai orang-orang yang
beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang
menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” [at-Taghâbun/64:14]
Makna “menjadi musuh bagimu” adalah
melalaikan kamu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Salah Menempatkan
Cinta dan Kasih Sayang
Kita dapati kebanyakan orang salah menempatkan arti cinta dan kasih sayang
kepada istri dan anak-anaknya, dengan menuruti semua keinginan mereka meskipun
bertentangan dengan syariat Islam, yang pada gilirannya justru akan
mencelakakan dan merusak kebahagiaan hidup mereka sendiri.
Ketika menafsirkan ayat tersebut di
atas, Syaikh Abdur rahmân as-Sa’di rahimahullah berkata: “…Karena jiwa
manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam
ayat ini) Allah ‘Azza wa Jalla memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini
menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam
hal-hal yang dilarang dalam syariat. Dia memotivasi hamba-hamba-Nya untuk
(selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya…”.
Oleh karena itulah, seorang kepala keluarga yang benar-benar menginginkan
kebaikan dalam keluarganya hendaknya menyadari kedudukannya sebagai pemimpin
dalam rumah tangganya, sehingga dia tidak membiarkan terjadinya penyimpangan
syariat dalam keluarganya, karena semua itu akan ditanggungnya pada hari kiamat
kelak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَلاَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ
عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ
عَنْهُمْ
“Ketahuilah, kalian
semua adalah pemimpin dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban tentang
apa yang dipimpinnya…seorang suami adalah pemimpin (keluarganya) dan dia akan
dimintai pertanggungjawaban tentang (perbuatan) mereka”.


